GARUT – Kawasan Cagar Alam Hutan Sancang di wilayah selatan Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali menjadi perhatian berbagai pihak dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan konservasi alam. Hutan yang dikenal memiliki nilai ekologis, historis, hingga kearifan budaya masyarakat adat itu dinilai menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam yang masih terjaga hingga saat ini.
Camat Cibalong, Galih Mawariz, S.E., S.IP., S.Mi., menegaskan bahwa pelestarian Hutan Sancang tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari aparat keamanan, petugas konservasi, tokoh adat, hingga masyarakat sekitar kawasan hutan.
Menurutnya, sinergitas yang selama ini terbangun antara pemerintah kecamatan, kepolisian, Perhutani, pihak BKSDA, dan masyarakat adat menjadi fondasi kuat dalam menjaga kawasan konservasi dari ancaman kerusakan lingkungan maupun eksploitasi alam secara berlebihan.
“Hutan Sancang bukan hanya kawasan konservasi biasa, tetapi merupakan warisan alam yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan kehidupan bagi masyarakat Garut Selatan. Karena itu menjaga hutan ini adalah tanggung jawab bersama,” ujar Galih Mawariz saat berada di kawasan konservasi wilayah XIX BKSDA Kecamatan Cibalong, Selasa (19/05/2026).
Ia menilai pendekatan berbasis budaya dan kearifan lokal terbukti efektif dalam menjaga keseimbangan alam di kawasan tersebut. Kesadaran masyarakat untuk menghormati alam dan menjaga kawasan hutan menjadi kekuatan utama dalam mempertahankan kelestarian Hutan Sancang.
“Kita bisa melihat bahwa menjaga hutan tidak selalu harus dengan pendekatan represif. Kesadaran budaya dan kearifan lokal justru menjadi kekuatan utama dalam menjaga kelestarian lingkungan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Galih juga mengapresiasi peran aktif aparat keamanan dan petugas kehutanan yang terus melakukan pengawasan serta pembinaan kepada masyarakat agar tetap menjaga kawasan konservasi.
Sinergi antara Camat Cibalong, Kapolsek Cibalong Iptu Irwandani, jajaran Perhutani, petugas BKSDA, hingga tokoh masyarakat dinilai menjadi contoh kolaborasi positif dalam menjaga kawasan hutan konservasi di Kabupaten Garut.
Galih berharap pola pendekatan berbasis kolaborasi dan budaya lokal tersebut dapat terus dipertahankan dan menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan pelestarian alam.
“Kita ingin Hutan Sancang tetap hijau, tetap lestari, dan tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Alam harus diwariskan dalam keadaan baik kepada anak cucu kita,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menuturkan keberadaan Hutan Sancang bukan hanya penting bagi masyarakat Garut Selatan, tetapi juga memiliki arti strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan secara lebih luas. Kawasan hutan tersebut berperan penting menjaga cadangan air, mencegah bencana ekologis, serta menjadi paru-paru alami bagi wilayah sekitar.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat merusak kawasan konservasi.
“Mari kita jaga bersama Hutan Sancang sebagai kekayaan alam dan kebanggaan Garut Selatan. Ketika alam dijaga dengan baik, maka alam juga akan menjaga kehidupan manusia,” pungkasnya.