GARUT, PURNAYUDHA.COM – Sejumlah warga Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, mengeluhkan kondisi lingkungan yang dinilai semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menyoroti dugaan alih fungsi lahan di kawasan hulu dan daerah resapan air yang disebut berdampak pada meningkatnya potensi banjir, longsor, hingga krisis air bersih.

Salah seorang warga Banjarwangi Dzanu mengatakan, perubahan kondisi alam kini semakin dirasakan masyarakat. Menurutnya, hujan dengan intensitas ringan sudah menimbulkan genangan di sejumlah wilayah, sementara hujan deras sering memicu longsor di kawasan perbukitan.

“Dulu kawasan hutan di hulu masih lebat dan mampu menyerap air hujan dengan baik. Sekarang banyak bukit berubah menjadi lahan pertanian, kebun, hingga bangunan. Saat kemarau masyarakat kesulitan air, sementara saat musim hujan ancaman banjir dan longsor semakin terasa,” katanya, Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, persoalan air bersih menjadi salah satu dampak yang paling dirasakan warga. Di sejumlah kampung, masyarakat harus memasang jaringan selang hingga beberapa kilometer untuk mendapatkan pasokan air bersih bagi kebutuhan sehari-hari.

“Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Sekarang banyak warga yang harus mengambil air dari sumber yang cukup jauh,” ujarnya.

Warga menilai persoalan tersebut tidak hanya disebabkan faktor cuaca, tetapi juga akibat perubahan tata guna lahan yang terjadi di sejumlah kawasan perbukitan dan daerah resapan air.

Mereka juga mempertanyakan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan instansi terkait.

Atas kondisi tersebut, warga meminta pemerintah daerah melakukan langkah konkret untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas. Salah satunya dengan memperketat pengawasan terhadap pemanfaatan lahan di kawasan hulu Banjarwangi.

Selain itu, warga juga mendorong adanya audit terhadap perizinan pemanfaatan lahan, percepatan program reboisasi di wilayah rawan longsor, serta keterbukaan informasi mengenai tata ruang wilayah.

“Kami berhak mengetahui mana kawasan lindung dan mana yang boleh dimanfaatkan. Informasi itu harus terbuka agar masyarakat juga bisa ikut mengawasi,” ujar warga lainnya, JA.

Warga juga mendesak DPRD Kabupaten Garut untuk memfasilitasi dialog bersama organisasi perangkat daerah terkait, termasuk instansi yang membidangi lingkungan hidup, tata ruang, dan pengelolaan kawasan hutan.

Menurut mereka, setiap musim hujan masyarakat selalu dihantui kekhawatiran akan terjadinya banjir dan longsor yang berpotensi mengancam keselamatan warga.

“Banjarwangi adalah tanah kelahiran kami. Kami berharap ada langkah nyata untuk menjaga lingkungan dan sumber daya alam yang tersisa agar tetap bisa dinikmati generasi mendatang,” pungkasnya.

Sementara itu, warga Singajaya, Isan, mengungkapkan keresahan masyarakat yang semakin meningkat akibat kondisi Sungai Cikaengan yang terus mengalami abrasi di sejumlah titik. Menurutnya, warga kini hidup dalam bayang-bayang ancaman banjir bandang setiap kali hujan deras mengguyur kawasan hulu.

“Kalau hujan turun dengan intensitas tinggi, kami selalu waswas. Debit air Sungai Cikaengan meningkat sangat cepat karena daerah resapan air semakin berkurang. Air yang meluap bukan hanya mengikis bantaran sungai, tetapi juga merusak lahan sawah milik warga,” kata Isan.

Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir luapan sungai saat musim hujan semakin sering terjadi dan dampaknya semakin terasa. Selain mengancam areal pertanian, derasnya aliran air juga berpotensi merusak rumah-rumah warga yang berada di dekat bantaran sungai.

“Warga khawatir jika kondisi ini terus dibiarkan, abrasi akan semakin parah dan risiko banjir bandang semakin besar. Yang paling kami takutkan bukan hanya sawah rusak, tetapi juga keselamatan warga yang tinggal di sekitar sungai,” ujarnya.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah dan instansi terkait segera melakukan kajian serta langkah penanganan terhadap kerusakan kawasan resapan air dan bantaran Sungai Cikaengan guna mencegah terjadinya bencana yang lebih besar di masa mendatang.***Lipsus***

Penyunting: redaksi

By admin

Leave a Reply