GARUT, PURNAYUDHA.COM – Di usia senjanya yang telah menginjak 80 tahun, Nenek Emot harus menjalani hidup penuh keterbatasan di sebuah rumah reyot yang nyaris ambruk di Kampung Cihuni 02/02, Desa Sukamulya, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Rumah berdinding bilik lapuk dan papan bolong itu menjadi saksi perjuangan hidup Nenek Emot sejak ditinggal meninggal sang suami beberapa tahun lalu. Kondisinya yang memprihatinkan membuat sang nenek hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap hari.
Atap rumah terlihat rapuh, sementara sebagian dinding sudah keropos dimakan usia. Saat hujan turun dan angin berhembus kencang, Nenek Emot mengaku tidak bisa tidur nyenyak karena khawatir rumah yang ditempatinya roboh sewaktu-waktu.
“Takut rumahnya ambruk. Kalau hujan besar saya sering numpang tidur di rumah anak,” ujar Nenek Emot lirih sambil menahan haru.
Meski hidup dalam kondisi serba kekurangan, Nenek Emot tetap memilih bertahan di rumah peninggalan suaminya itu. Namun rasa cemas terus menghantui setiap harinya, terlebih saat cuaca buruk melanda kawasan tersebut. Bahkan, rumah itu kini lebih sering dikosongkan karena Nenek Emot memilih menginap di rumah anaknya demi keselamatan.
Nenek Emot hanya bisa berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah maupun para dermawan agar dirinya dapat tinggal di rumah yang lebih layak dan aman.
Sementara itu, petugas Puskesos Desa Sukamulya, Salman, mengaku prihatin melihat kondisi yang dialami Nenek Emot. Ia menyebut pihaknya sudah beberapa kali meninjau langsung rumah lansia tersebut dan melaporkannya kepada pemerintah setempat.
“Kondisinya memang sangat memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius. Sekarang rumah itu sering dikosongkan karena Nenek Emot memilih menginap di rumah anaknya akibat khawatir ambruk,” kata Salman.
Menurut Salman, hingga saat ini Nenek Emot belum tercover bantuan sosial pemerintah seperti PKH, BPNT maupun bantuan sosial lainnya. Pihaknya pun terus berupaya berkoordinasi dengan pemerintah setempat agar Nenek Emot bisa mendapatkan bantuan, baik untuk perbaikan rumah maupun bantuan sosial.
“Kami berharap ada perhatian dari Pemkab Garut dan pihak terkait agar Ibu Emot bisa mendapatkan bantuan hunian layak dan bantuan sosial lainnya,” pungkasnya.
Sementara itu, penggiat sosial Isan turut menyoroti pentingnya peran pemerintah kecamatan agar lebih aktif turun langsung ke masyarakat untuk memantau kondisi warga yang membutuhkan perhatian. Menurutnya, di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Singajaya masih terdapat warga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan dan belum tersentuh bantuan sosial.
“Harusnya camat bersinergi dengan pemerintah desa, aktif terjun ke masyarakat untuk meninjau kondisi warga, melakukan mitigasi, dan memastikan bantuan tepat sasaran,” ujar Isan.
***Tim Lipsus (18/5/2026)***.