TASIKMALAYA, PURNAYUDHA.COM – Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Tasikmalaya tidak hanya menjadi ajang pemilihan duta daerah semata, tetapi juga menjadi sarana pembinaan generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial, lingkungan, dan budaya di tengah derasnya arus modernisasi.
Hal tersebut disampaikan oleh Iqbal Nurhidayat dalam rangkaian kegiatan Grand Final Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Tasikmalaya. Menurutnya, ajang tersebut merupakan upaya terstruktur untuk melahirkan pemuda yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual dan komunikasi yang baik, tetapi juga peka terhadap realitas yang terjadi di masyarakat.
“Pasanggiri Mojang Jajaka bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan sebagai upaya terstruktur untuk menciptakan generasi pemuda yang melek terhadap realitas dan mampu mengatasi setiap persoalan, khususnya yang berkaitan dengan derita lingkungan,” ujar Iqbal.
Ia menegaskan, di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat, generasi muda harus tetap memiliki idealisme dan karakter yang kuat. Menurutnya, pemuda memiliki peran strategis sebagai calon pemimpin masa depan yang akan menentukan arah pembangunan daerah maupun bangsa.
“Di tengah arus modernisasi, pemuda harus tetap menjadi sosok yang kukuh dalam mempertahankan idealismenya, karena pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan,” katanya.
Iqbal juga menyoroti tantangan pelestarian budaya lokal yang saat ini mulai tergerus oleh pengaruh budaya asing. Ia menyebut kondisi tersebut sejalan dengan peribahasa Sunda “jati kasilih ku junti”, yang menggambarkan mulai tergesernya nilai-nilai budaya asli oleh budaya luar.
Untuk itu, Paguyuban Mojang Jajaka yang berada di bawah pembinaan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Tasikmalaya terus berupaya menjaga regenerasi generasi muda yang mencintai dan melestarikan budaya daerah melalui penyelenggaraan pasanggiri secara berkelanjutan.
“Budaya asli pribumi hari ini telah mulai terpolarisasi oleh budaya asing. Dalam istilah paribasa Sunda disebut ‘jati kasilih ku junti’. Sebagai upaya mempertahankan budaya asli pribumi, Paguyuban Mojang Jajaka yang dinaungi Disparpora melakukan pasanggiri untuk menjaga keutuhan regenerasi pemuda di Tasikmalaya,” jelasnya.
Pada malam puncak Grand Final, Iqbal juga mengingatkan para finalis bahwa keberhasilan dalam ajang tersebut tidak hanya diukur dari gelar yang diraih, melainkan dari kontribusi nyata yang diberikan kepada masyarakat setelah kompetisi berakhir.
“Malam puncak Grand Final ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan titik awal di mana perjuangan mesti dimulai. Kemenangan sejati bukanlah menjadi pinilih, melainkan bagaimana kehadiran kita mampu dirasakan dan memberi kebermanfaatan bagi orang banyak,” pungkasnya.
Melalui Pasanggiri Mojang Jajaka, diharapkan lahir generasi muda Kabupaten Tasikmalaya yang tidak hanya menjadi representasi pariwisata dan budaya daerah, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang peduli terhadap lingkungan, sosial, dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal.***tim lipsus***