GARUT, PURNAYUDHA.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut mencatat kejadian tanah longsor di Kampung Pakandangan RT 02 RW 12, Desa Margahayu, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 28 Desember 2025, sekitar pukul 17.00 WIB.

Informasi kejadian diterima BPBD Kabupaten Garut pada Jumat, 2 Januari 2026, berdasarkan laporan resmi dari Kecamatan Leuwigoong terkait bencana hidrometeorologi. Menindaklanjuti laporan tersebut, BPBD langsung menurunkan tim Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) atau Unit Reaksi Cepat untuk melakukan assessment, pendataan, serta pemetaan wilayah terdampak.

Berdasarkan hasil assessment lapangan dan keterangan Kepala Desa Margahayu, tanah longsor dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama. Selain itu, kondisi Tembok Penahan Tanah (TPT) di lokasi longsoran tidak dilengkapi lubang drainase, kualitas campuran material bangunan yang kurang memadai, serta kemiringan tembok yang mencapai sekitar 85 derajat.

Struktur tanah di lokasi juga merupakan tanah urug yang labil sehingga mudah jenuh air dan kehilangan daya ikat. Kondisi tersebut diperparah dengan terkikisnya saluran irigasi tersier, yang menyebabkan air langsung meresap ke pori-pori tanah dan struktur TPT.

Akibat kejadian tersebut, TPT dengan panjang sekitar 10 meter, tinggi 9 meter, dan lebar 3 meter mengalami kerusakan berat atau ambruk. Longsoran tersebut berpotensi mengancam satu unit sarana ibadah Mushola Nurul Ihsan, satu unit rumah warga milik Sari’ah (75), serta jalan lingkungan dan saluran irigasi pertanian yang berdampak pada dua desa, yakni Desa Margahayu dan Desa Margacinta.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, BPBD menilai kerusakan yang terjadi cukup signifikan. Retakan pada permukaan tanah dan bangunan di sekitar lokasi longsoran menunjukkan potensi terjadinya longsor susulan apabila tidak segera ditangani.

BPBD Kabupaten Garut bersama Forkopimcam Kecamatan Leuwigoong, unsur Polri, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat telah melakukan koordinasi dan assessment lanjutan pada Sabtu, 3 Januari 2026. Masyarakat di sekitar lokasi kejadian juga diimbau untuk tetap waspada, terutama saat hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.

Saat ini, penguatan sementara di area mahkota longsoran dan TPT telah dilakukan menggunakan bambu. Namun, kondisi tersebut masih dinilai labil. Material longsoran juga masih menutupi saluran irigasi tersier, sementara retakan terlihat pada TPT serta dinding dan lantai mushola.

BPBD Kabupaten Garut merekomendasikan percepatan penanganan struktural dengan melibatkan dinas teknis terkait, seperti Dinas PUPR dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), guna melakukan kajian teknis dan perencanaan penanganan permanen. Selain itu, Dinas Pertanian juga didorong untuk melakukan pendataan lahan terdampak serta mengkaji potensi kerugian dan risiko gagal panen.

Kebutuhan mendesak di lokasi saat ini meliputi bronjong, terpal untuk penutupan area longsoran, serta logistik untuk kegiatan kerja bakti dan penanganan darurat. BPBD juga menekankan pentingnya sosialisasi dan edukasi kebencanaan kepada masyarakat guna meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, khususnya tanah longsor***

Sumber: BPBD Garut

By admin

Leave a Reply