27/02/2021

PERS YAYASAN GOTONG ROYONG PENCA TNI-POLRI PURNAYUDHA

Perjuangan Seorang Ustadz yang membangun pondok Pesantren anak Yatim Piatu di desa Lingkungpasir

PURNAYUDHA.COM – Lingkungpasir- Cibiuk pembangunan pondok pesantren memang masih bergantung pada bantuan orang lain sehingga ketersediaan material sulit diprediksi.

Tetapi segala keterbatasan itu tak menyurutkan semangat ustadz Jajang dan para santrinya untuk membangun pondok. dan Semua yang terlibat dalam rencana pembangunan pondok menjalaninya dengan penuh ikhlas.

Rencana Pembangunan pondok tersebut digagas Ketua Syrikat Islam Indonesia (SII) PAC Cibiuk Asep Supriatna dan Ustaz Jajang Suparman. Informasi mengenai rencana pembangunan pondok tersebar dari mulut ke mulut, sampai sumbangan mulai terkumpul.

Dari sumbangan-sumbangan itu, pembangunan pondok bisa berjalan selangkah demi selangkah, sampai saat ini pembangunan masih berjalan.

Ustaz Jajang dan santri-santrinya berharap pondok bisa segera dibangun dan bisa digunakan untuk mengaji para santrinya dan bisa untuk kegiatan lainnya.

Suasana sejuk dan rindangnya pohon kayu dan bambu membuat para santri nyaman untuk belajar mengaji, Tidak ada pungutan biaya untuk siapa saja yang ingin belajar dan tinggal di pondok yang belum selesai dibangun tersebut.

Saat ini, sekitar puluhan santri dewasa dan belasan anak-anak masih mengaji di rumah Ustaz jajang suparman yang lokasinya tidak jauh dari pondok yang sedang dibangun, kp mulyasari RW 12 desa Lingkungpasir, Kacamatan Cibiuk Kabupaten Garut

Ustaz Jajang berprinsip, meski tak mendapat bayaran, yang penting anak-anak mau mengaji dan mendapatkan waktu yang bermanfaat.

Seringkali, para santri dewasa yang mengaji kitab kuning di malam hari sampai tidur di mushola karena keterbatasan tempat menginap.

“Nanti, kalau sudah jadi, pondok pesantren ini mudah-mudahan kita bisa belajar mengaji dengan sungguh – sungguh ” ungkap ustadz Jajang

Meski pembangunannya mengandalkan sumbangan, Ustaz Jajang dan para santrinya tetap bertekad bahwa suatu hari pondok ini mampu berdikari. Kehidupan di pondok saat pembangunan selesai nanti sudah dipikirkan.

Para santri sudah terbiasa “menikmati” kesulitan. Karena, jika menggunakan rumus matematika, sulit rasanya membayangkan kelanjutan biaya pembangunan dan operasional pondok.

Tapi Ustaz jajang dan Pak Asep supriatna berikut para santri optimistis bahwa pondok akan berdiri karena yakin hidup ini bukan sekadar matematika.

Ustadz jajang berharap adanya uluran tangan dari pemerintah daerah maupun pusat, untuk pembangunan pesantren anak yatim piatu.

***Wawan Rakyatmedia Biro Garut***