Pameran Foto Kolonial Warnai Hari Jadi Garut Ke-213
GARUT, PURNAYUDHA.COM – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Garut ke-213, sebuah pameran bertajuk “Garut Tempo Doeloe: Jejak Priangan pada Masa Kolonial” digelar di seputaran Pendopo Garut, Rabu (18/02/2026). Pameran ini mengajak masyarakat menyusuri perjalanan waktu melalui arsip visual yang merekam wajah Garut pada dekade 1910 hingga 1920-an.
Pengunjung seakan dibawa memasuki ruang nostalgia, ketika wilayah Priangan dikenal luas sebagai “Swiss van Java” berkat keindahan alamnya. Melalui bidikan kamera fotografer era kolonial, terpampang bentang pegunungan, kawasan perkebunan, hingga bangunan-bangunan megah yang menandai perkembangan kota di bawah administrasi Hindia Belanda.
Pada awal abad ke-20, kawasan Cipanas telah tumbuh menjadi destinasi wisata unggulan. Pemandian air panas di kaki Gunung Guntur serta panorama alam yang mengelilingi kota menjadi daya tarik utama yang dipromosikan pemerintah kolonial kepada wisatawan Eropa. Foto-foto yang dipamerkan menampilkan jalan-jalan tanah yang membelah perbukitan, hamparan kebun, serta suasana pedesaan yang masih asri—menggambarkan Garut sebagai daerah yang tenang namun mulai bergerak menuju modernitas.
Salah satu sorotan dalam pameran ini adalah kemegahan Hotel Papandayan, yang pada masanya dikenal sebagai hotel termewah di Priangan. Bangunan bergaya kolonial dengan sentuhan tropis tersebut menjadi simbol eksklusivitas dan kerap disinggahi kalangan elite. Tak jauh dari sana, Hotel Ngamplang di dataran tinggi turut menawarkan panorama lapangan golf dan pegunungan yang memikat. Kedua hotel ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat bermalam, tetapi juga menjadi ruang sosial bagi pejabat kolonial, pengusaha perkebunan, dan wisatawan asing.
Dokumentasi visual lainnya memperlihatkan tata kota yang mulai tertata, ditandai dengan jalan raya yang lebar, jembatan kokoh, serta kantor-kantor administrasi. Namun di balik kemegahan itu, tersimpan pula dinamika sosial seperti sistem perkebunan, stratifikasi masyarakat, hingga praktik kerja paksa yang menjadi bagian dari realitas masa kolonial.
Pameran ini tidak sekadar menghadirkan romantisme masa lalu, tetapi juga mengajak masyarakat membaca ulang sejarah. Setiap foto merupakan arsip yang membekukan waktu sekaligus menjadi saksi terbentuknya identitas Garut melalui interaksi antara alam, kolonialisme, dan masyarakat lokal.
Melalui kegiatan ini, pengunjung diharapkan tidak hanya melihat gambar, tetapi juga merasakan denyut kehidupan pada masa itu—membayangkan delman melintas di jalanan kota, percakapan berbahasa Belanda di beranda hotel, serta aktivitas masyarakat pribumi yang menjadi bagian penting dari perjalanan Garut.
Garut hari ini merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang. Dengan menatap kembali foto-foto era 1910–1920-an, masyarakat diajak untuk merawat ingatan kolektif agar sejarah tetap hidup dan memberi makna bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.***
